Selasa, 20 Desember 2011

Kitab – Kitab Allah

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada rasuluuah SAW. Berkat limpahan dan rahmatNya pemnyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Study Islam 1.

Kitab Allah merupakan wahyu Allah yang di berikan lewat para Nabi atau Rasulnya, yang berisi tentang pedoman hidup manusia yang berisi tentang segala bentuk kehidupan.Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi masih jauh darim kesempurnaan.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentangKitab – kitab Allah , yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan.Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar.Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Muhamaddiyah purwokerto.Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.


PENDAHULUAN

Adanya Allah adalah sesuatu yang bersifat aksiomatik ( sesuatu yang kebenarannya telah di akui , tanpa pembuktian yang bertele – tele ) . Dan salah satu bukti akan adanya Allah SWT ialah bahwa Allah telah menurunkan kitab – kitabnya kepada para Nabi atau Rasul yang berisi wahyu Allah untuk di ajarkan kepada manusia.

Dalam agama Islam dikenal empat buah kitab yang wajib kita percaya serta kita imani.Jumlah kitab suci sebenarnya tidak dijelaskan dalam Alquran dan juga dalam Hadis. Selain dari kitab Allah yang diturunkan melalui rosul melalui malaikat jibril, kita juga bisa berpedoman pada hadist nabi Muhammah SAW dan sahifah-sahifah / suhuf / lembaran firman Allah SWT yang diturunkan pada nabi Adam, Ibrahim dan Musa AS.

Percaya pada kitab-kitab Allah SWT hukumnya adalah wajib 'ain atau wajib bagi seluruh warga muslimin di seluruh dunia.Dilihat dari pengertian atau arti definisi, kitab Allah SWT adalah kitab suci yang merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT melalui rasul-rasulnya untuk dijadikan pedoman hidup umat manusia sepanjang masa.Orang yang mengingkari serta tidak percaya kepada Alquran disebut orang-orang yang murtad.

Dengan turunnya kitab Allah, yang telah disampaikan kepada Rasul itu, diharapkan seseorang dapat menjadikan Kitab sebagai petunjuk dan pedoman hidup dalam memperoleh surga Allah.


BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Kitab – Kitab Allah

Secara etimologis kata kitab adalah bentuk masdhar dari kata ka-ta-ba (كتاب )yang berarti menulis. Setelah jadi mashdar berarti tulisan atau yang ditulis.Bentuk jama’ dari kitab adalah kutub.Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kitab berarti buku.

Secara terminologis, yang dimaksudkan dengan kitab ( Al-kitab, Kitab Allah, Al-kutub, Kitab-kitab Allah ) kitab suci yang diturunkan oleh Allah swt kepada rasul-rasul-Nya sebagai rahmat dan hidayah bagi seluruh umat manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Kata Al-kitab sendiri di dalam Al-Qur’an dipakai untuk beberapa pengertian, diantaranya :

a. Menunjukkan semua kitab suci yang pernah diturunkan kepada para Nabi dan Rasul

b. Menunjukkan semua kitab suci yang diturunkan sebelum Al-Qur’an

c. Menunjukkan kitab suci tertentu sebelum Al-Qur’an : missal Taurat

d. Menunujuakan kitab suci Al-Qur’an secara khusus

Ada dua jenis kitab suci:

a. Kitab suci samawi, yakni kitab suci yang bersumber dari wahyu Allah SWT. dan biasa disebut Kitabullah (Kitab Allah SWT.). Ada yang berwujud Kitab dan ada yang berwujud Shahifah atau Shuhuf.Suhuf yaitu wahyu Allah yang disampaikan kepada rasul, tetapi masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah.

Kitab-Kitab Samawi Yang Disebutkan Di dalam Al Quran :

1) Shuhuf Ibrahim

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa” (QS. Al A’la : 14-19)

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa?dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” (QS. An Najm : 36-37)

2) Shuhuf Musa

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa” (QS. Al A’la : 14-19)

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa?dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?” (QS. An Najm : 36-37)

b. Kitab suci ardhi, yakni kitab suci yang tidak bersumber dari wahyu Allah SWT. melainkan bersumber dari hasil perenungan dan budi daya akal manusia sendiri.

Ø Pengertian iman kepada kitab-kitab Allah

Yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab Allah SWT. yaitu meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT. telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada paraNabi dan Rasul yang berisi wahyu Allah SWT. berupa perintah dan larangan untuk disampaiakan kepada umat manusia agar diunakan sebagai pedoman hidup di dunia.

Dalil naqli dan aqli terkait dengan iman kepada kitab-kitab Allah SWT:

1) Dalil Naqli

Al-Qur’an

Artinya:

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”. (QS. Al-Baqarah:4).

Hadits Nabi SAW.:.

Artinya:

Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, (HR. Muslim). (dikutip dari himpunan hadits Arba’in karya Imam An-Nawawi)

2) Dalil Aqli

Allah SWT Maha ‘Alimun (Tahu) bahwa manusia adalah makhluk yang dha’if (lemah). Sedangkan Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Rahman (Pengasih) dan Maha Rahim (Penyayang). Atas hal itulah Allah SWT berkehendak memberikan bimbingan kepada manusia agar tetap menjadi makhluk paling mulia di sisi-Nya dengan memberikan pedoman berupa kitab suci lengkap dengan uswah hasanah (contoh tauladan) yang berupa seorang Nabi dan Rasul.

Ø Nama-nama kitab Allah SWT. beserta para Nabi dan Rasul yang menerimanya

Ada yang menyebutnya Thoret atau Thora. Diturunkan kepada Nabi Musa AS (Moses) abad ke 15 SM untuk Bani Israil dan berbahasa Ibrani.

Artinya:

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku”. (QS. Al-Isra’:2)

Kandungan kitab Taurat:

a. Perintah mengesakan Allah SWT.

b. Larangan membuat dan menyembah patung berhala.

c. Larangan menyebut Nama Allah SWT. Dengan sia-sia.

d. Perintah mensucikan hari Sabtu.

e. Perintah menghormati ayah dan ibu.

f. Larangan membunuh sesama manusia.

g. Larangan berbuat zina.

h. Larangan mencuri.

i. Larangan menjadi saksi palsu.

j. Larangan mengambil istri orang lain.

Kitab Zabur

Juga ada yang menyebut Mazmur maupun Paska. Diturunkan kepada Nabi Dawud AS (=David) pada abad ke 10 SM untuk Bani Israil dan berbahasa Qibthi.

Artinya:

“Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan kami berikan Zabur (kepada) Daud”. (QS. Al-Isra’:55)

Kandungan kitab Zabur:

a. Do’a

b. Dzikir

c. Nasihat

d. Hikmah

e. Menyeru kepada ketauhidan

f. Tidak berisi syari’at.

Kitab Injil

Ada yang menamakan Bibel maupun Alkitab. Diturunkan kepada Nabi Isa AS (Yesus Kristus) pada awal abad ke 1 M untuk Bani Israil dan berbahasa Suryani.

Artinya:

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Maidah:46)

Kandungan kitab Injil:

a. Seruan tauhid kepada Allah SWT.

b. Ajaran hidup zuhud dan menjauhi kerusakan terhadap dunia.

c. Merevisi sebagian hukum Taurat yang sudah tidak sesuai.

d. Berita tentang akan datangnya Nabi akhir zaman bernama Ahmad atau Muhammad.

Al-Qur’an

Nama lainnya adalah Adz-Dzikru, Al-Furqon, Al-Bayan, Al-Huda, dsb. Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (=Ahmad) pada abad 7 M mulai 6 Agustus 610 M untuk pedoman seluruh manusia dan berbahasa Arab.

Artinya:

“Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui”. (QS. Yusuf: 3)

Ø Shuhuf-shuhuf yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul.

Disamping menurunkan kitab suci, Allah SWT. juga telah menurunkan petunjuk-Nya dalam bentuk lembaran-lembaran yang disebut Shahifah atau Shuhuf.

Artinya:

“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa”. (QS. Al-A’la: 18-19)

Shuhuf adalah wahyu yang diturunkan dari Allah SWT. kepada para utusan-Nya dalam bentuk lembaran (shahifah). Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Abu Dzar R.A., bahwa shuhuf itu hanya bersisi tentang AMTSAL (=perumpamaan).

Diantara para Rasul yang telah menerima shuhuf dari Allah SWT. adalah:

a. Nabi Adam AS. : 10 shuhuf.

b. Nabi Syits AS. : 50 shuhuf.

c. Nabi Idris AS. : 30 shuhuf.

d. Nabi Musa AS. : 10 shuhuf.

e. Nabi Ibrahim AS. : 10 shuhuf.

2. Kitab – Kitab Allah sebagai wahyu

Kata wahyu secara etimologi adalah bentuk mashdar dari kata auba.Dalam bentuk mashdar tersebut mempunyai dua arti. Pertama Al-Khafa’ ( tersembunyi, rahasia ) dan kedua As’ Sur’ah ( cepat ). Dinamakan demikian dikarenakan wahyu itu adalah semacam informasi yang rahasia, cepat, khusus diketahui orang – orang yang dituju saja.Secara terminology, wahyu adalah kalam yang diturunkan oleh Allah SWT yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

Disamping itu Al- Quran menggunakan kata wahyu untuk beberapa pengertian lain , diantaranya :

a. Ilham fitri yang diberikan kepada manusia , seperti yang diberikan Allah SWT kepada ibu Musa untuk menyusukan bayinya.

b. Instink yang diberikan kepada hewan.

c. Bisikan syaitan kepada manusia untuk menggodanya dan menipunya.

d. Perintah Allah SWT kepada para malaikatnya.

Wahyu – wahyu tersebut diturunkan oleh Allah SWT kepada para Nabi dan Rasul-Nya melalui beberapa cara, diantaranya :

a. Melalui mimpi yang benar ( Ar-ru’ya as-Shidiqah filmanam ), misalnya wahyu yang diterima oleh Nabi ibrahim as dalam mimpinya untuk mengorbankan putranya.

b. Kalam illahi dari balik tabir ( min wara’ al-hajab ), seperti perintah shalat fardu yang diterima olah Nabi Muhammad saw waktu peristiwa isra mi;raj.

c. Melalui malaikat jibril ( Dalam wujud pria maupun wujud asli ).

d. Dengan perintah langsung, Ini terjadi tidak dalam keadaan tertidur. Melainkan dalam keadaan terjaga. Tempatnya adalah bumi. Ini yang membedakan penerimaan wahyu Allah ta’ala kepada Nabi saw, selain ada yang diterima di Sidratul Muntaha ada yang diterima langsung di bumi.

Proses turunnya Al-Qur’an adalah secara bertahap dan berangsur-angsur. Bertahap artinya Al-Qur’an tidak langsung disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW., melainkan melalui beberapa tahapan. Tahap pertama Al-Qur’an disimpan di Lauh Mafudz, Tahap kedua diturunkan ke Baitul ‘Izzah atau “samaud-dunya” (=langit dunia) pada malam Lailatul Qadar, kemudian tahap ketiga baru disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. secara berangsur-angsur.

Hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap adalah:

a. Untuk memuliakan Al-Qur’an itu sendiri.

b. Untuk memuliakan dan menghormati penerimanya (Nabi Muhammad SAW.) dengan cara memberitahukan kepada seluruh penghuni langit.

Adapun berangsur-angsur artinya bahwa Al-Qur’an tidak di sampaikan sekaligus, melainkan sedikit demi sedikit sesuai situasi dan kondisi yang tepat. Adapun pertama kali ayat Al-Qur’an disampaikan oleh Malaikat Jibril (Ruhul-Quddus) kepada Nabi Muhammad SAW. adalah pada saat “bi’tsah” (pengangkatan) beliau sebagai Nabi dan Rasul yakni pada 17 Ramadhan bertepatan pada tanggal 6 Agustus 610 M, Seterusnya disampaikan hingga dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari, yakni 13 tahun pada periode Mekkah dan 10 tahun pada periode Madinah.

Hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah:

a. Bagi Nabi Muhammad SAW:

1) Meringankan dalam menerima wahyu.

2) Memudahkan dalam menjelaskan kandungan dan mencontohkan pelaksanaannya.

3) Meneguhkan hati dalam menghadapi cobaan celaan dan penganiayaan orang-orang kafir.

b. Bagi Ummat:

1) Memudahkan dalam menghafalkan.

2) Memudahkan dalam memahami.

3) Mempersiapkan bangunan Al-Qur’an dengan landasan yang sempurna dalam menghancurkan kepercayaan yang bathil dan tradisi yang merusak.

4) Membengun umat menuju bentuk yang sempurna dengan menanamkan aqidah salamah, ibadah shahihah dan akhlaqul karimah.

5) Meneguhkan hati dan meringankan beban penderitaan dalam menegakkan dan memperjuangkan Islam.

3. Kitab – Kitab Allah SWT Sebelum Al-Qur’an

Sebelum kitab suci Al-Qur’an Allah SWT telah menurunkan beberapa kitab suci kepada para nabi dan Rasul-Nya. Yang disebutkan di dalam Al-Qur’an ada lima: tiga dalam bentuk kitab yaitu taurat, zabur, dan injil. Sedangkan yang du diantaranya berupa shuhuf yaitu shuhuf Ibrahim dan Musa.

Untuk kitab-kitab suci yang tidak disebutkan namanya tersebut, kita wajib mengimaninya secara global ( ijmal ) bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab suci kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

Kitab-kitab Allah SWT yang telah diturunkan sebelum kitab suci Al-Qur’an tidaklah bersifat iniversal seperti Al-Qur’an, tetapi hanya bersifat local untuk umat tertentu.

Dari semua kitab – kitab yang telah diturunkan kepada Nabi dan Rasul sebelum Al-Qur’an, tidak ada satupun lagi yang sampai kepada kita secara utuh sebagaimana yang di turunkan dahulu.sehingga tidak ada satupun kitab suci yang berhak disebut kitab Allah selain Al-Qur’an pada saat ini, hal ini dikarenakan oleh beberapa ala an, diantaranya :

a. Tidak ada satupun naskah asli dari semua kitab suci yang diturunkan sebelum Al-Qur’an terpelihara sampai sekarang

b. Kitab – kitab suci tersebut sudah bercamour dengan ucapan manusia, baik berupa tafsir, sejarah hidup para nabi dan murid – murid mereka

c. Terdapat pertentangan antara satu bagian dengan bagian yang lain, antara satu kitab dengan kitab lainnya

d. Terdapat beberapa pelajaran yang batil tentang Allah SWT dan beberapa Rasul-Nya.

4. Al-Qur’an Sebagai Kitab Allah Yang Terakhir

Al Qur’an adalah kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah ke bumi, sebagai penyempurna dari kitab-kitab terdahulu, yang keasliannya selalu terjaga sepanjang zaman. Sebagai sebuah kitab, Al-Qur’an berkedudukan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia, terutama seorang muslim.

Dengan hubungannya dengan kitab – kitab Allah yang sebelumnya, maka Al – Quran berfungsi sebagai :

· Nasikh, baik lafadz maupun hukum , terhadap kitab sebelumnya . artinya semua kitab terdahulu dinyatakan tidak berlaku lagi, yang wajib diamalkan dan diikuti adalah Al- Quran.

· Muhaimin, batu ujian terhadap kitab sebelumnya, artinya bahwa Al – quran menjadimkorektor dari kitab sebelumnya.

· Mushaddiq, menguatkan kebenaran pada kitab sebelumnnya seperti taurat dan injil yang membawakan petunjuk Allah dan cahay akebenaran.

a. Keutuhan dan keaslian Al-Qur’an

Berbeda dengan kitab suci lain sebelum Al-Qur’an, Al-Quran terjamin keaslian dan keutuhannya, hal ini dikarenakan adanya jaminan dari Allah SWT terhadap keaslian dan keutuhan Al-Qur’an dalam firman-Nya :

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”

Selain itu juga, dikarenakan adanya usaha yang manusiawi dilakukan sejak zaman Rasulullah SAW oleh para sahabat dibawah bimbingan Rasulullah SAW dan oleh generasi berikutnya

b. Keistimewaan Al-Qur’an

Sebagai kitab Allah SWT yang terakhir, Al-Qur’an memiliki beberapa keistimewaan, antara lain sebagai berikut :

Ø Berlaku umum untuk seluruh manusia dimana dan sampai kapan pun mereka berada sampai akhir zaman

Ø Ajaran Al-Qur’an mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, seperti ekonomi, polotik, hokum budaya, seni, ilmu pengetahuan, dll

Ø Mendapat jaminan dari Allah SWT dari segala bentuk penambahan, pengurangan, dan pemalsuan

Ø Allah SWT menjadikan Al-Qur’an mudah untuk dipahami, dihafal, dan diamalkan

Ø Al-Qur’an berfungsi sebagai Nasikh[i], Muhaimin, dan Mushadiq terhadap kitab suci sebelumnya

Ø Al-Qur’an sebagai mukjizat bagi nabi Muhammad SAW

Tantangan Al-Qur’an terhadap para penentangnya terdiri dari tiga tahap

a. Tahap pertama, tantangan yang bersifat umum mencakup manusia dan jin untuk membuat seperti Al-Quran

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". ( Al-Israa’ 88 )

b. Tahap kedua, tantangan untuk membuat sepuluh surat saja seperti surat-surat Al-Qur’an

Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al-Qur'an itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". ( Hud 13 )

c. Tahap ketiga, tantangan untuk membuat satu surat saja seperti surat – surat Al-Qur’an

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah [31] satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. ( Al-Baqarah 23 )

5. Perbedaan Iman kepada Allah dengan iman Kepada Kitab sebelumnya

Perbedaan konsekuensi keimanan antara iman kepada Al-Quran dan iman kepada Kitab suci sebelumnya yakni kalau terhadap kitab suci sebelumnya seorang muslim hanyalah mempunyai kewajiban untuk mengimani keberadaan dan kebenarannya tanpa kewajiban mempelajari , mengamalkan dan mendakwahkan kandungannya karena kitab suci itu berlaku untuk semua umat dan masa tertentu yang telah berakhir dengan kedatangan Kitab suci terakhir yaitu Al – Quran. Jika ada hal yang sama dan masih berlak dan diamalkan , itu semata – mata karena dperintshksn oleh Al – quran bukan ada pada kitab sebelumnya.

Sedangkan iman kepada Al – Quran membawa konsekuensi yang lebih luas seperti mempelajarinya, mengamalkannya dan mendakwahkannya, serta membelanya dari serangan musuh – musuh islam.


BAB III

KESIMPULAN

Yang dimaksud dengan kitab-kitab Allah adalah kitab-kitab dan shuhuf (lembaran-lembaran wahyu) yang di dalamnya tertulis firman Allah Ta’ala yang diwahyukan kepada rasul-rasulNya.

Adapun beriman kepada kitab-kitab Allah Ta’ala maksudnya adalah membenarkan dengan keyakinan yang pasti bahwa Allah Ta’ala memiliki kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul-rasulNya yang berisi kalamullah (firman Allah) dengan kebenaran yang nyata dan cahaya petunjuk yang jelas untuk disampaikan kepada hamba-hamba-Nya.

Beriman kepada semua kitab-kitab Allah merupakan salah satu rukun dari rukun–rukun iman yang enam.Tidak sah keimanan seseorang kecuali dengan mengimaninya.Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an dan oleh Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam as-Sunnah.

Allah Ta’ala berfirman, artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. 4:136)

Allah Ta’ala juga berfirman, artinya, “Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya’.” (QS. al-Baqarah: 136)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang iman, “(Iman) itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan Hari Akhir serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar